Hancurnya Keluarga Karena Sebuah Warisan

Pengalaman terburuk dalam hidup saya adalah hancurnya keluarga karena sebuah warisan yang sangat besar. Saya mempunyai sebuah keluarga, dimana ayah saya memiliki 3 istri. Aku merupakan anak dari istri ke-3 nya, diriku adalah anak tunggal dan laki – laki pertama.

Hancurnya Keluarga Karena Sebuah Warisan

Ayah ku menuliskan dalam warisan kalau harta ini 70% diberikan kepada anak tunggal laki – laki nya. Berarti yang dimaksud dalam warisan itu adalah saya kan ? Tapi karena tidak terima, akhirnya istri kedua & pertama melaporkan adanya pemalsuan dari surat warisan itu.

Hancurnya Keluarga Karena Sebuah Warisan

Untung nya semasa masih hidup ayah mempunyai 1 orang asisten yang selalu membantunya dalam berbagai urusan keuangan & bisnis. Beliau tidak pernah melibatkan istri / keluarga dalam urusan tersbeut. Karena dirinya selalu bercerita kepada ku, suatu saat pasti akan ada pertengkaran karena warisan.

Faktanya apa yang sudah dia katakan kini menjadi sebuah kenyataan, dan diriku sendiri merasa sakit hati akan tindakan dari kedua ibu tiri ku. Meski melaporkan pemalsuan surat warisan, asisten ayah tetap berjuang seperti pesan & warisan asli dari mendiang ayah. 30% dari aset harta harus dibagiakan kepada 3 anak perempuan dari istri pertama & ke-2.

Hancurnya Keluarga Karena Sebuah Warisan

Ayah dulu menjadi bos dari sebuah perusahaan minyak & batu bara di Pekan Baru. Nama beliau sudah sangat terkenal, karena perusahaan yang dirintisnya ini sudah sangat besar dan berdiri sejak tahun 1994. Masa berjaya ayah adalah dari bisnis yang telah lama dibangun nya tersebut. Karena uang banyak juga ayah memutuskan untuk memiliki 3 orang istri sekaligus.

Namun seperti ini lah kalau ada sebuah warisan besar, dimana 1 kelaurga yang tadinya utuh bisa saling menyakiti satu sama lain. Sampai sekarang saya dan keluarga sudah menutup hubungan sangat lama. 5 tahun terakhir adalah hari terakhir kami bertemu karena persidangan harta warisan.

Padahal ketika mendiang ayah masih hidup, kami semua hidup dalam satu lingkup keluarga yang harmonis. Namun semuanya berubah setelah kepergian beliau sangat mendadak karena terkena serangan jantung semasa sedang memantau Lapangan. Hubungan ku dengan saudara tiri juga menjadi sangat dingin, mereka selalu memandang bahwa disini aku adalah orang yang jahat.